Pagi hari
indah dihari senin yang menyebalkan. Semua terlalu kaku untuk dijalankan, semua
terlalu berat untuk dilakukan. Sudah menjadi kebiasaan yang lumrah untuk anak
anak jika hari senin pagi untuk bermalas malas pergi kesekolah. Ya, aku
merasakannya sendiri dimana aku merasa ingin dirumah dan melanjutkan tidurku.
Rasa liburan yang dirasakan pada hari minggu memang belum sepenuhnya hilang dan
pergi dari tubuhku. Namun dengan demikian aku harus memaksakan diriku untuk
tetap berangkat kesekolah. Bagaimanapun itu merupakan kewajibanku yang harus
aku lalui.
Perkenalkan
namaku Cak Ram. Pada saaat itu aku masih berumur 9 tahun. Ya masih terlalu
bocah untuk menuliskan kisah ini. Ya, kisah ini memang dimulai sejak aku
berumur 9 tahun dan masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar. Dimana aku
merasakan benih benih cinta monyet masa sekolah dasar namun rasa itu tidak bisa
hilang sampai betahun tahun kemudian. Banyak yang bilang aku bodoh, banyak yang
kasihan kepadaku, banyak yang menertawakanku, namun tidak sedkit yang ingin
membantuku. Semuanya aku terima dengan senang hati dari yang menyebutku bodoh
sampai yang membantuku. Baik kembali kecerita.
2007.
Pada saat
itu aku seperti biasa murid murid yang lain melakukan rutinitasnya. Bangun pagi
pukul 05:30 lalu mandi lima menit kemudian, setelah mandi langsung memakai
seragam putih putih dengan dasi merah dan topi merah putih kebanggaan anak sd,
setelah itu sarapan. Ya, menu sarapanku merupakan menu yang lagi nge-trend saat
itu yaitu sereal koko crunch. Setelah sarapan aku berangkat kesekolah dengan
diantar oleh om ku dengan menggunakan motor supra fit berwarna biru abu
abu. Aku berangkat tepat pukul 6 pagi.
Perjalanan kesekolahku dulu tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Biasa
ditempuh dalam waktu 5-7 menit. Hari senin memang menyebalkan karena harus
mengikuti upacara bendera yang dimana aku harus berdiri dan mengikuti jalannya
upacara bendera sektar 30 menit lamanya sebelum akhirnya masuk kekelas.
Sesampainya disekolah aku langsung menuju kelasku yang berada dilantai 1 dan
berada ditengah tengah yang diapit oleh kelas 1 dan 4. Perlu diketahui bahwa
kelas 2 masuk agak lebih siang pada jam 10:30. Jadi, kelas mereka bergantian
dengan kelas 1. Setelah aku menuju kelasku, aku langsung menaruh tasku yang
bergambar Batman itu ditempatku yang berada di nomor dua dibelakang. Sebenarnya
bukan nomor dua juga sih, karena setiap minggu kelasku dirolling tempat duduknya
agar semua murid dapat merasakan duduk di depan, ditengah, dan dibelakang. Saat
itu aku kebagian duduk dibelakang bersama temanku bernama Mas Han. Seorang
bocah gendut yang kadang dibutuhkan, namun kadang juga suka dicari. Dia
merupakan sahabatku sampai sekarang. Setelah menaruh tas, aku menunggu bel
tanda masuk dibunyikan dan dimulainya upacara bendera. Sambil menunggu aku
menaruh botol minumku yang selalu setia menemaniku kemanapun aku berada, ya
botol minum kaleng merek Nike berwarna biru. Sambil meneguk air aku melihat
teman teman kelasku baru datang, ada Zaidan yang seorang anak hakim yang selalu
dipotong cepak. Lalu kemudian teman teman wanitaku datang. Yang pertama bernama
Mbak Mur. Seorang anak cadel namun pintar yang juga sampai sekarang menjadi
sahabatku, dan ada anak baru yang datang bernama Mas Yaya dia memang agak tidak
jelas namun selalu dibutuhkan dan juga dia sahabatku sampai sekarang. Yang
terakhir aku lihat baru datang tepat 10
menit sebelum bel dibunyikan adalah Hani. Seorang gadis putih yang mukanya
lucu, dan suka menyanyi lagu Bunga Citra Lestari yang berjudul Cinta
Pertama/Sunny, alasannya karena lagu tersebut sama seperti namanya. Dia
merupakan temanku sejak aku duduk dibangku taman kanak kanak. Sama seperti Farhan
namun Hani sempat satu tahun sekelas bersamaku di taman kanak kanak, sampai
akhirnya ditahun kedua dia berbeda kelas denganku. Namun aku tidak tahu kalau
dia ternyata satu SD denganku.
Tepat pukul
7 bel akhirnya dibunyikan dan semua murid dari kelas satu, kelas tiga, sampai
kelas enam berkumpul dilapangan upacara. Hampir lupa kalau sekolahku itu dulu
dibagi empat sekolah yaitu SDN Rawa Kiblad 05, 06, 07, 08. Dimana yang angka
ganjil merupakan sekolah pagi dan yang genap adalah siang. Upacara tersebut diikuti
oleh dua sekolah yaitu 05 dan 07. Dan saat itu pembina upacaranya dan petugas
upacaranya kebetulan dari sekolahku. Pembina upacara saat itu adalah kepala
sekolahku yang bernama Bapak Kriyadi, seorang yang tinggi tegap dan memiliki
perut agak tabun dan memiliki tanda lahir dipipinya. Dia galak, ya dia galak.
Karena kebijakannya kami, saya dan teman teman tidak bisa bermain sepakbola
disekolah.
Upacara
dimulai sesuai prosedur dari disiapkannya barisan, pengibaran bendera diiringi
lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pembacaan naskah naskah. Sampai tiba
saatnya pidato dari kepala sekolah yang dimana sangat aku benci. Aku bukan
tidak suka pidatonya, tetapi durasi pidatonya terkadang memang luar biasa. Luar
biasa memakan waktu. Seperti biasanya beliau akhirnya berpidato, dan… ya,
tebakan ku benar. Pidato beliau lebih dari 20 menit.
Upacara
diakhiri dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh petugas upacara. Setelah doa
selesai lalu laporan kepada pembina dan barisan dibubarkan oleh pemimpin
upacara. Setelah upacara selesai memang diberi waktu sepuluh menit untuk
berisitirahat yang dimana waktu tersebut aku pakai sebaik mungkin dengan jajan
dikantin untuk membeli es teh ibu sumar. Seorang ibu rumah tangga yang memiliki
rumah tepat dibelakang sekolah dan dia juga merupakan istri dari bapak Sumar
yang merupakan ketua RW. Setelah membeli es teh aku menuju toilet untuk buang
air kecil dan akhirnya kembali kekelas. Ketika kembali kekelas ternyata wali
kelasku sudah berada dikelas dan pelajaran pun siap dimulai.
Wali
kelasku bernama Ibu Hj. Rafni, dari semua guru yang pernah mengajarku dia
adalah salah satu yang paling berkesan. Sifat keibuannya sangat terpancar dari
dirinya, dirinya tidak galak, dia penyayang, lembut, dan tegas. Sekarang aku
tidak mengetahui kabarnya lagi, terakhir aku dengar dirinya tinggal bersama
anaknya di Singapura. Dia pensiun tepat setelah selesai mengajarku. Terima
kasih ibu jasamu tidak akan pernah aku lupakan.
Kembali
kecerita, pelajaran dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh ketua
kelas, yang bernama Cak Ib, dia sahabatku juga namun tepat dikelas empat
dia pindah kekampungnya di brebes. Omong omong, jabatanku dikelas saat itu
adalah wakil ketua kelas. Jadi termasuk orang penting juga diriku ini. Jujur aku tidak mengingat pelajaran apa yang
dipelajari hari senin karena itu sudah bertahun tahun yang lalu. Jadi aku akan
mengangkat kejadian kejadian pentingnya saja.
Beberapa
hari kemudian diadakan hapalan oleh Ibu Rafni yaitu hafalan perkalian, dimana
aku melewatinya dengan mudah, aku kebagian setelah Hani. Ya awalnya aku
nervous, tegang, tapi entah kenapa aku suka sekali kalau melihat wajah Hani
yang aku bilang lucu itu. Memang lucu, senyumnya yang aneh menurutku, dan juga
kadang tingkah lakunya juga sedikit menyebalkan. Hmm, ya tapi entah kenapa aku
suka sekali melihatnya. Awalnya aku memang agak tidak suka dengan dia, ya yang
menurutku menyebalkan itu tapi ya aku harus akui kalau aku lama lama
memperhatikan dia juga. Saat itu aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan, aku belum
mengenal cinta, aku belum mengerti wanita, yang ku tahu dulu hanyalah ya dia
kok menarik aku suka dia. Batinku waktu itu berkata “ah gamungkin aku suka sama
dia, dia kan aneh”. Batin memang
berbanding terbalik dengan realita, karena realitanya aku merasa tertarik
dengan dirinya. Mundur kira kira 6 bulan sebelumnya tepatnya ditahun 2006
aku lupa ini terjadi dibulan apa. Pada saat itu aku datang kesekolah dalam
kondisi tidak fit ya aku sakit. Namun aku bawa badanku ini dengan biasa saja
sampai akhirnya aku tidak menahan karena panas dibadanku tinggi sekali hingga
akhirnya kepalaku tergeletak di meja, dan aku menatap Hani yang tepat berada di
sampingku. Bukan disamping bangku ku tetapi berbeda baris denganku. Ya saat itu
Ibu Rafni menyuruh para muridnya untuk mengerjakan penelitian, ya tentang
kacang merah. Kita diharuskan menanam kacang merah sampai tumbuh dan dikasih
waktu kira kira 3 minggu. Namun pada saat diberikan tugas aku tidak bisa
menulisnya karena kepalaku sangat pusing dan aku merasa menggigil. Aku memalingkan
muka kearah Hani dan… dia menegurku “Kamu gak nulis?” sambil menunjukku
mengunggunakan pensilnya, saat itu aku tidak menjawab pertanyaannya namun aku
balas dengan anggukkan yang menandakan jawabanku adalah “iya”. Dan dia kembali
menulis arahan yang diberikan oleh Ibu Rafni. Kembali pada saat Hani maju
hafalan. Ya aku terus memperhatikannya, aku memang tidak mengerti apa yang aku
rasakan itu. Tapi aku bisa membuat kesimpulan bahwa aku suka dengan dia. Saat
itu juga aku mencari tahu kenapa aku bisa suka dengannya, dan sampai sekarang
jawabannya tidak ketemu. Sekarang saja tidak tahu apalagi dulu ketika aku masih
duduk dikelas 3 sd. Akibatnya adalah aku menjadi dekat dengan dia, dan bermain
dengannya. Namun pada saat itu aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan. Yang
aku lakukan pada saat itu adalah mencoba dekat dengannya, dengan cara aku
bermain bersama.
Untuk
seterusnya aku masuk sekolah pun tidak hanya untuk belajar, tetapi untuk
bermain dengannya. Kadang aku juga suka iri dengan temanku Dika, seorang yang
kurus, yang lebih kurus daripada diriku. Aku iri kenapa dia bisa duduk disamping
Hani? Sedangkan aku hanya duduk dengan si gendut ini? Ahh kau tidak adil Ibu
Rafni…. Mulai saat itu aku selalu mencuri curi pandang terhadapnya. Entah ini
insting seorang laki laki atau aku hanya mencari perhatiannya, aku tidak tahu.
Namun yang pasti aku selalu over reacted ketika didepannya. Dan dia
menanggapinya juga dengan tertawa karena mungkin lucu. Aku mulai pamer pada
saat pelajaran olahraga. Dimana guruku yang bernama Bapak Heri yang juga
tetanggaku, seorang yang tinggi besar dan kulitnya bewarna gelap. Dia memberi
pelajaran bebas pada saat itu dan dia membolehkan kami bermain bola pada saat
itu untuk anak laki laki dan yang perempuan hanya duduk memperhatikan. Pada
saat itulah kesempatanku untuk pamer skill kepada Hani. Namun ketika aku
bermain bola dirinya kembali kekelas bersama teman temannya. Anjay… dia pergi…
gagal lagi ajang pamer skillku. (So
Sad Bro L)
Semakin
kesini semakin akrab diriku dengan Hani.
Aku menjadi sering main bareng bersamanya, walaupun permainannya sungguh tidak
jelas. Yaitu, cowok mengejar cewek dan menangkapnya. Seperti bermain polisi
maling namun sudah ketauan siapa yang akan menjadi maling dan polisinya. Dan
aku pada saat itu mengejar Hani dan menangkapnya membuatnya menjadi milikku.
Ea. Engga membuat dia menjadi tawananku.
Karena sejujurnya sampai saat ini, sampai sekarang, dirinya tidak pernah
menjadi milikku.
Aku senang
sekali jika sudah masuk waktu istirahat karena pasti akan bermain permainan
absurd tersebut, dua kali waktu istirahat dua duanya digunakan untuk bermain
permainan tersebut. Dan sasaranku pada saat itu selalu Hani. Selama hampir satu
semester kurang lebih, aku selalu bermain permainan itu dan sasaranku tidak
pernah berubah. Selalu Hani. Itu selalu. Sampai setelah ulangan pun masih tetap
bermain seperti itu dan seperti yang aku bilang sasaranku tidak pernah berubah.
Sampai akhirnya libur kenaikan kelaspun datang dan aku kangen untuk bermain
permainan tersebut. Namun aku harus menunggu selama dua minggu untuk bisa
bermain dan bertemu dengannya.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar