Langsung ke konten utama

Petualangan Cak Ram : Bab Sedih Nih


Kelas 4 2007/2008.

Jujur aku banyak kejadian yang aku lupakan saat kelas 4. Jadi aku akan menuliskan inti kisahnya saja.

Libur akhir semester genap sudah dimulai satu hari setelah pembagian hasil rapor, dengan demikian berakhirlah masa ajaran tahun 2006/2007. Itu juga berarti aku tidak berada disekolah untuk dua minggu kedepan. Liburan akhir semester aku isi dengan bermain dengan sahabat sahabat kecilku, dan selalu di isi dengan permainan permainan sederhana. Setiap pagi pukul enam tepat teman temanku yang bernama Shandika, Jaka, Ridho, Surya, Erzal, Haidar selalu membangunkanku dengan memanggilku didepan rumahku untuk mengajakku bermain sepak bola. Ya sepakbola walaupun hanya beberapa orang saja isinya. Teman temanku ini bisa dibilang hobi bermain, Shandika seorang yang kurus cungkring yang rumahnya selalu dibiarkan terbuka untuk kami berkumpul, Jaka yang juga saudaraku dia jago sekali gambar, Ridho yang dipanggil Kodir yang hobi sekali bermain game konsol playstation, Surya yang memiliki hobi yang sama seperti Ridho, dan Haidar pelari cepat.

Kami bermain bola memang tidak pernah lama. Ya paling lama hanya satu jam, dalam satu jam itupun lebih banyak duduk daripada bermainnya. Ya, duduk untuk mencari lawan tanding, kalau bahasa kami itu disebut aduan. Maksudnya adalah tim kita beradu tanding dengan tim lain dan biasanya skornya sudah ditentukan harus berapa banyak. Setelah selesai bermain bola kami biasa berjalan memutar  menuju taman tempat kami beristirahat setelah bermain bola. Alih alih beristirahat kami malah bermain dengan bola lagi, bukan ditendang melainkan dilemparkan dan harus mengenai badan. Kalau bahasa kami disebut Tak Gebok. Namun yang membedakan permainan ini dengan Tak Gebok adalah permainan ini dimainkan ditempat bermain yang berbentuk kubah dan kita harus berada diatas dan yang menjadi pelempar dibawah kubah, target adalah badan. Kaki dan kepala tidak sah, dan yang paling menyebalkan adalah jika bola yang kita lempar jatuh tepat dibawah teman yang berada diatas kubah, karena pemain yang berada diatas kubah boleh menendang bola itu menjauh.  Kami biasa melakukan itu sampai kami semua lelah.

Setelah selesai bermain kita pulang dan melewati pasar untuk sekedar membeli jajanan, mengganjal perutku. Setelah membeli jajanan kami beranjak pulang dan selalu melewati rumah berpagar hitam yang selalu terlihat sepi. Rumah tersebut ketika itu berwarna kuning namun sekarang sudah dicat ulang dan diganti dengan warna abu abu. Ketika itu memang biasa saja karena memang rumah itu tidak ada spesialnya kalau hanya diihat dari luar. Yang membuat rumah itu special adalah rumah tersebut merupakan tempat tinggal Hani ketika itu, sebelum akhirnya dia pindah ke Bekasi tepatnya. Penyebab dia pindah nanti akan aku beri tahu kisahnya.

Setelah libur dua minggu usai aku kembali bersekolah dan naik ke kelas empat. Tidak ada yang berubah karena temanku juga itu itu saja sekelas, namun ada murid baru yang membuatku menjadi lumayan kaget. Dia bernama Mba Ajeng, ya aku sempat suka dengannya karena dia cantik, pintar, dan tulisannya bagus. Jadi aku mulai suka dengan dua orang pada saat itu namun aku tidak mengetahui apa yang harus aku lakukan karena menurutku aku hanya suka dan tidak berlebihan jika aku suka dengan dua orang. Namun alih alih aku menjadi suka sama Ajeng, aku malah bisa dibilang tambah dekat dengan Hani walaupun aku pada saat kelas empat duduk dibelakang Ajeng dan juga pada saat itu aku mulai diledek karena suka sama Ajeng. Namun untuk apa aku menulis ini kalau bukan untuk mengklarifikasi kejadian itu. Aku akan jujur, bahwa pada saat itu aku memang suka sama Ajeng, tetapi rasa yang aku miliki tetap untuk Hani.

Selama berminggu minggu, berbulan bulan aku duduk dibelakang Ajeng. Efek yang ditimbulkan adalah teman temanku meledekku kalau aku adalah pacarnya. Pacar?? What the fvck! Aku belum mengerti pacaran itu apa pada saat itu, yang aku ketahui pada saat itu hanyalah rasa suka dan rasa tertarik. Aku suka dengan Ajeng dan Hani namun aku hanya tertarik dengan Hani.

Pada saat kelas empat aku tidak terlalu se-over reacted seperti kelas tiga karena aku suka pada dua orang dan tertarik pada satu orang. Jadi ketika aku datang kekelas pun aku tidak memperhatikan mereka berdua walaupun aku duduk dibelakang Ajeng waktu itu. Ketika aku hanya terfokus kepapan tulis karena guruku Ibu Yenni termasuk galak. Ya, biarpun galak dia termasuk yang terbaik karena mampu membuatku sadar untuk tidak bermain main ketika sekolah.

Ketika kelas empat aku termasuk anak yang bandel dan jarang mengerjakan PR, aku malas pada saat itu. Sekarang pun aku mengakuinya kalau aku malas sekali pada saat itu, siasat jitunya aku belajar bersama temanku dirumahnya. Ya, dia bernama Mahar bocah gendut berambut cepak dan kidal. Dia termasuk teman yang sering di bully. Kadang sangat dibutuhkan namun kadang juga tidak dibutuhkan. Selain Mahar aku juga sering bertanya tugas dengan temanku bernama Dwi, bocah gendut yang memang tidak jelas, sampai sekarang pun masih seperti itu.

Kembali kepada Hani, walaupun aku menyimpan rasa kepadanya banyak yang belum mengetahuinya termasuk dirinya. Aku menyimpannya begitu rapat dari dia, dan aku membiarkan diriku diledek oleh teman teman termasuk Hani kalau aku suka sama Ajeng. Ketika dia meledekku ingin aku rasanya memberi tahu kalau sebenarnya yang aku rasakan adalah aku suka dan tertarik sama kamu Hani. Tapi demi tertutupnya rahasia aku biarkan ini didalam hatiku.

Hari hari berlangsung damai tidak ada masalah tapi suatu hari aku tidak ingat pastinya hari apa dan bulan apa, dia tiba tiba pulang lebih dulu tanpa aku tahu sebabnya. Sebelum dia meninggalkan ruangan kelas aku sempat melihat ekspresi panic yang muncul dari mimik mukanya, tetapi aku anggap itu biasa saja. Ketik pulang kerumah aku bertemu nenekku dan beliau berkata “Muh bapaknya teman loe meninggal” sempat bingung dengan pernyataan itu dan aku bertanya balik “bapaknya siapa bu?” dan  nenekku langsung memberi tahu namanya “itu siapa namanya sih Hani yaa, iya teman TK loe dulu bapaknya Hani meninggal” kaget sih. Cukup kaget dan pada hari itu pun aku bermain dengan teman temanku dirumah Mur, dan teman temanku juga sudah membicarakannya ternyata. Ketika diumumkan dimasjid semua temanku histeris, namun aku berusaha untuk menahan diri. Tidak lama aku bermain dirumah Mur, aku langsung pulang bersama temanku, disaat aku pulang aku bertemu dengan Mas Syah  didepan rumah Hani. Niatku yang tadinya langsung pulang urung aku lakukan aku berhenti didepan rumah Hani, namun aku tidak masuk kerumahnya karena aku memang tidak tahu apa yang  harus aku lakukan pada saat itu. Ketika aku didepan rumahnya tidak lama kemudian aku mendengar sirene ambulance yang mengerah ke rumah Hani. Dugaanku benar itu adalah ambulance yang mengantar ayahanda dari Hani ke rumahnya untuk disemayamkan. Ambulance itu mengantar jenazah ayahanda Hani ke rumahnya.

Aku memang tidak ikut masuk kerumah Hani, tetapi aku mengetahui kalau Hani pingsan ketika ayahandanya disemayamkan dirumahnya yang berada di Jalan Pasar Pagi. Aku mengetahui kabar tersebut dari temanku yang bernama Silvia. Aku tidak tega melihatnya maka aku putuskan untuk kembali kerumah.

Keesokan harinya ketika mendengar kabar seperti itu Ibu Yenni langsung berinisiatif untuk mengunjungi rumah Hani untuk melayat. Satu kelas ikut melayat, tetapi kembali aku pulang lebih dulu karena ingin pergi kekampung. Satu momen terlewati, aku pun turut menyesalinya. Aku ingin meminta maaf kepadamu tetapi aku yakin kamu tidak bisa mendengarnya disana. Maka aku ingin mencatatkan permintaan maafku di dalam tulisan ini, yang mungkin kelak kamu akan baca nanti.

“Aku ingin meminta maaf kepadamu Han, aku tidak menghadiri doa bersama untuk mendoakan ayahmu ketika satu kelas berkunjung kerumahmu untuk melayat. Aku meminta maaf yang sebesar besarnya. Bukannya aku tidak ingin menghadirinya, tetapi karena saat itu aku diharuskan untuk berangkat ke terminal dimana bus yang aku tumpangi akan berangkat dua jam setelah aku pulang sekolah. Maka aku terpaksa melewatkan hari itu. Maafkan aku yang sebesar besarnya.

Untukmu, Hani.

TTD, Cak Ram. (UGH Sedih bgt Ram L)

Sebenarnya banyak yang ingin aku tuliskan tentang kejadian itu, tetapi aku tidak bisa menuliskannya karena sangat sulit bagiku untuk menuliskannya.

Kelas empat pun akan berakhir dalam beberapa hari lagi, aku mendengar kalau Ajeng akan pindah sekolah. Aku agak kaget karena jujur dia sangat membantuku untuk mengerjakan tugas yang aku tidak tahu. Tetapi aku tidak terlalu memikirkannya terlalu larut karena memang aku hanya suka dengan dia. Ternyata kabar akan ada anak murid yang pindah itu benar terjadi. Bukan Ajeng tetapi…. Akan aku ceritakan di bagian kelas 5.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

01:21G

Malam begitu gelap, bintang pun memudar, cahaya bulan pun tertutupi gumpalan lembut awan. Hujan rintik rintik yang membasahi bumi ini membawa segenap kenangan yang pernah aku rasakan. Semua hal yang aku harapkan akan terjadi kepadaku. Semua hal yang ada pada masa lalu, semua rasa yang ada pada masa lalu akan terasa indah jika kita kenang dan aka nada keinginan dalam diri kita untuk mengulang sesuatu yang telah terjadi. Termasuk rasa yang ada didalam hatiku ini. Semua rasa yang tertinggal jauh didalam lubuk hatiku yang akan terus berada disana tidak akan tergantikan oleh siapapun. Perasaan yang dulu sangat menyiksaku terkadang datang kembali. Terkadang juga datang disaat yang tidak tepat. Perasaan yang datang kepadaku membawa semua rasa yang terpendam didalam hatiku. Entah mengapa hal itu bisa terjadi aku juga tidak tahu. Memang perasaan ini sungguh menyiksaku, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang aku bisa lakukan hanya seperti dul...

Maaf.

Jauh.. jauh sekali dari tempat kita berada. Semua perasaan ini telah tersimpan begitu lama. Jauh dibawah hamparan bintang yang berkelap kelip. Ketika aku memejamkan mata, ku melihat indahnya senyum dibibirmu. Bila ini kesempatan terakhirku untuk membenahi apa yang terjadi waktu itu. Maka aku akan mengajakmu berdiri disisi ku dan bersama kita melihat indahnya bintang yang memberikan kedipan cinta yang begitu indah. Jika pada saat itu aku mengatakan padamu apa yang tidak pernah aku katakan. Jika aku menunjukkan semua perasaanku padamu. Jika aku menyatakan cintaku padamu. Maukah kau berjalan bersamaku hingga akhir waktu kita nanti. Mungkinkah hubungan kita bisa berakhir lebih dari seorang teman dekat? Dan kita akan berpegangan tangan erat hingga akhirnya kau mengerti, aku disini untukmu. Jauh sekali dari tempat kita berasal, jauh sekali dibawah bintang yang memandang. Mungkin ini saatnya yang tepat untuk berterus terang kepadamu, dan aku akan mengatakan kepadamu apa yang a...